‘Diet Islami’ di laman “VOA-Islam”

Voa-Islamic Health (15): Diet Islami Memang Bukan Diet Biasa




Sahabat VOA-Islam yang Dicintai Allah SWT…

Kegemukan terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) yang melebihi energi yang dikeluarkan (energy expenditure), untuk periode waktu yang cukup panjang. Disamping mampu memicu munculnya beragam masalah biologis dan psikologis, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel di bawah, kondisi ini juga bisa menggerogoti situasi ekonomi mulai rumah tangga hingga negara.

Hasil beberapa studi di negara maju, menunjukkan bahwa biaya langsung dari obesitas per-tahun, adalah: disebut NHMRC tahun 1990, mencapai 464 jutaAus$ di Australia; disebut Levy et al tahun 1992, mencapai 12 Milyar FF di Perancis;disebutSeidel tahun 1989, 1 Milyar NLG di Belanda; dan disebut Wolf dan Colditz tahun 1994, 45,8 Milyar US $ di AmerikaSerikat. Besar biaya obesitas tersebut merupakan 4 – 7%dari total biaya kesehatan nasional negara masing-masing (Hadi, 2005).

Beragam Situasi Buruk Yang Ditimbulkan Oleh Obesitas
Pada Pria dan Wanita

 

Sumber : Lean, 2002, p 10.

Mengingat demikian besar kerugian yang bakal ditimbulkan, banyak pakar yang seolah tertantang, berlomba mengeluarkan beragam “jurus maut” untuk mengendalikannya. Anehnya, walau seribu satu macam cara telah dicoba, wabah kegemukan rupanya tetap bergeming jua. Semakin hari penderitanya malah menjalar kemana-mana, menerabas batas desa dan kota. Melibas status sosial, ekonomi serta agama.

Islam Anti-Kegemukan

Penderita kegemukan di Indonesia, menurut Dr. Minarto, MPS (ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia), “Pada orang dewasa, jumlahnya sekarang sudah mencapai lebih dari 20 persen, padahal yang mengalami gizi kurang atau agak kurus 9 – 10 persen.” (halaman 20).

Dengan asumsi Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, jangan salahkan jika lalu muncul anggapan bahwa mayoritas penderita kegemukan pun adalah muslim. Imbas lebih lanjutnya, timbul kemudian sangkaan bahwa Islam adalah agama pemicu kegemukan.

Tentu saja dugaan tersebut sepenuhnya keliru. Sebab sejatinya Islam adalah agama yang anti-kegemukan. Beberapa keterangan berikut bisa dijadikan buktinya :

Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638),

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim 6636 dan Ahmad 7322).

Keterangan al-Qurthubi (w. 671 H), sebagaimana diungkap Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com), ketika menyebutkan hadis di atas, beliau mengatakan, “Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk. Karena gemuk yang bukan bawaan penyebabnya banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamba bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram…”

Fakta lain yang menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang pro-kegemukan bisa dibaca pula pada hadits yang menerangkan sosok Rasulullah SAW,

Anas Radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah memiliki postur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, dan fisiknya bagus. Rambut beliau tidak keriting juga tidak lurus. Warna (kulitnya) kecoklatan, jika beliau berjalan, berjalan dengan tegak”. (al-Mukhtashar hadits no. 2).

Barâ` bin ‘Azib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang berambut ikal, berpostur sedang, bahunya bidang, berambut lebat sampai cuping telinga dan beliau memakai kain merah. Aku belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau”. (al-Mukhtashar hadits no. 3).

Rasulullah SAW dalam keterangan diatas digambarkan memiliki fisik yang bagus, bahunya bidang. Walau boleh jadi tidak sekekar Arnold Schwarzenegger atau Ade Rai, namun sangat mustahil rasanya jika beliau memiliki perut yang buncit, ciri khas yang mengindikasikan penderita kegemukan. (halaman 13).

Sederet pertanyaan kemudian bermunculan: Kenapa orang Islam bisa terjebak dalam pusaran kegemukan? Apakah mereka tidak tahu bahwa Islam mencela mereka yang kegemukan? Apakah mereka tidak sadar dengan bahaya yang mengancam dibalik kegemukan badannya? Apakah mereka enggan melakukan diet? Apakah orang Islam sudah malas melakukan aktivitas fisik? Dan lain sebagainya.

Ada banyak jawaban untuk menuntaskan pertanyaan itu. Selain munculnya godaan bosan dan mahalnya biaya guna mengatasinya, ketiadaan elemen lain, yakni semangat yang kudu terus menggebu, sebab “perang” melawan kegemukan berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang waktunya seumur hidup, tampaknya merupakan beberapa faktor yang tak boleh dipandang sebelah mata.

Diet Islami

Agama merupakan perkara penting yang kerap luput dari radar perhatian para perancang program penanggulangan kegemukan selama ini. Padahal “energi” yang dihasilkan agama terbilang luar biasa. Atas nama ibadah, dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, banyak orang yang rela berkorban apa saja. Contoh “kecil,” ibadah haji. Meski harus menanti sekian lama, mengorbankan dana berjuta-juta, dengan semangat orang rela melaksanakannya. Demikian halnya dengan puasa di bulan Ramadhan, yang malah kerap disambut dengan sukacita bukan hanya oleh orang tua bahkan pula anak-anaknya.

Diet Islami berupaya menyinergikan hal tersebut. Melaksanakan bagian dari gaya hidup selaras syariat, hingga dapat pahala berlipat, sekaligus, sebagai “bonus”-nya, memiliki tubuh yang langsing dan sehat, tidak menderita kegemukan, karena apa yang dilakukan ternyata juga sejalan dengan hasil-hasil penelitian para ilmuwan – dalam buku Diet Islami terbitan penerbit Pro-U Media Yogyakarta, akhir tahun 2014, dituliskan perbedaan Diet Islami dengan diet biasa: Jika diet biasa menjadikan aspek langsingnya badan sebagai targetnya, Diet Islami justru menjadikan pelaksanaan perintah Allah SWT, serta mengikuti Sunnah Rasulullah Saw, sebagai fokus perhatiannya (halaman 77).

Sebab yang dilakukan adalah ‘perburuan’ berkah Allah Swt, maka tak perlu heran jika proses pengidealan berat badan dalam Diet Islami tidak tergantung pada jumlah hari, hitungan minggu atau bulan, namun pada seberapa hebat Anda melaksanakan ketentuan syariat. Semakin Anda rajin melaksanakan apa-apa yang Rasulullah Saw dulu lakukan, kian ideal pula berat badan. Semakin jauh dari ancaman kegemukan. Allahu ‘alam

Penulis: Yuga Pramita 

(Penulis buku “Ayat-Ayat Sehat” dan “Diet Islami”)

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/health/2015/01/26/35287/voaislamic-health-15-diet-islami-memang-bukan-biasa/#sthash.oeqBDN00.0g7xsKdp.dpbs, akses tgl 26/01/2015.

Iklan