Diet TV pada Anak, Apa Perlunya?

 

Pernahkah sesekali menghitung, berapa jam dalam sehari kita membiarkan anak-anak menghabiskan waktunya untuk menonton TV – barang elektronik  segiempat yang oleh cak Nun dalam Indonesia Bagian Dari Desa Saya, dituding turut aktif menyapu beberapa tatanan kehidupan orang desa.

Milton Chen, Ph.D., praktisi dan pengamat televisi dari Amerika Serikat, pernah ‘iseng-iseng’ melakukan itu pada anak-anak di negaranya. Dia mendapatkan, rata-rata mereka menonton TV 4 jam/hari, 28 jam seminggu, 1.400 jam sampai 1.800 jam setahun. Bandingkan angka itu dengan 13.000 jam yang dilewatkan anak-anak di sekolah mulai dari TK sampai kelas 3 SMU. Boleh dibilang, anak-anak meluangkan lebih banyak waktu di depan televisi daripada melakukan kegiatan positif lainnya.

Anda yang sudah dengan susah payah mengerem kebiasaan itu dan terus berupaya menekannya, boleh bersyukur karenanya. Sedangkan yang masih cuek bebek, justru menikmatinya karena dengan begitu anak-anak jadi gak bikin pusing, silahkan waspada, sebab boleh jadi anda justru sedang menyiapkan “bom” masalah, yang kelak di kemudian hari akan meledak, menambah rentetan keruwetan lebih kompleks yang mesti diselesaikan.

Empat Manfaat

Paling tidak ada empat manfaat yang bisa dipetik, manakala anda mulai berani mematikan TV, tidak membiarkan anak-anak memelototinya setiap hari :

Pertama, menghemat listrik.

Adanya listrik membuat manusia jadi lebih nyaman dan serba praktis. Meski demikian, hal ini tidak berarti gratis. Butuh biaya, yang besarnya tergantung jumlah tenaga listrik yang dimanfaatkan, atau sering disebut dengan jumlah kWh terpakai. Pemakaian energi listrik di rumah tangga perkotaan sebagian besar adalah untuk penerangan (sekitar 50%), sisanya digunakan untuk keperluan rumah tangga lainnya, diantaranya TV.

Bila pemakaian listrik tidak terkendali, akibat pasti bagi konsumen adalah banyaknya biaya yang mesti dikeluarkan untuk membayar energi yang telah dipakai. Di haree geenee, kala kebutuhan meningkat tinggi, tentu saja kebiasaan ini akan membuat hidup makin sumpek.

Karenanya, sayangilah listrik anda, mulailah melakukan penghematan. Diawali dengan rajin mematikan TV, menghidupkannya sesuai dengan kebutuhan, manakala ada acara yang memang bagus untuk ditonton.

Sebagai pertimbangan, besarnya energi yang digunakan untuk televisi (14 Inch, yang memiliki besar daya 30 Watt, dengan pemakaian per hari 7 jam) dibanding dengan keperluan listrik untuk belajar (lampu pijar 25 Watt yang digunakan 4 jam/hari), dalam setiap bulannya adalah 6,30 kWh berbanding 3,00 kWh (www.surya.co.id).

Kedua, mencegah kegemukan. 

Disamping kurang gizi, situasi kontradiksi yang dihadapi bangsa ini adalah kelebihan gizi, lazim disebut kegemukan dan obesitas, yang selanjutnya akan memicu beragam penyakit degeneratif diantaranya penyakit jantung. Berdasar hasil analisis data antropometri anak balita yang dilakukan Direktorat Bina Gizi Masyarakat (BGM) Depkes, diketahui bahwa dalam 10 tahun, yaitu dari tahun 1989 hingga 1999, prevalensi kelebihan berat badan meningkat dari 0,77% hingga 4,48%.

Simpulan sebuah penelitian kohort menyebutkan bahwa menonton TV lebih dari 5 jam dapat meningkatkan prevalensi dan angka kejadian obesitas pada anak 6 – 12 tahun (18%), serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari terapi obesitas sebanyak 33% (Sjarif, 2002).

Disamping dapat menurunkan aktifitas fisik, para peneliti dari the Harvard School of Public Health (HSPH) yang dipimpin Jean Wiecha dan koleganya dari Children’s Hospital Boston, menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan banyak waktu untuk menonton TV memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan berkalori tinggi, rendah gizi lainnya (junk food) yang sering diiklankan televisi.

Ketiga, mencegah peningkatkan ‘hobi’ melakukan tindak kekerasan.

Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann, psikolog dari Universitas Michigan, pada tahun 1960, melakukan penelitian terhadap 800 anak sekolah berusia 8 tahun dan mendapatkan hasil yang ‘cukup’ mengagetkan. Anak-anak yang terlalu lama menonton acara kekerasan di TV cenderung berperilaku agresif di ruang kelas maupun di tempat bermain.

Anak-anak yang terlalu lama menonton acara kekerasan di TV cenderung berperilaku agresif di ruang kelas maupun di tempat bermain.

Sebelas dan 22 tahun kemudian Eron dan Huesmann mengecek kembali anak-anak tersebut dan mendapati perilaku agresif mereka mencapai puncaknya ketika berusia 19 dan 30 tahun, dengan beragam masalah yang dilakukan, diantaranya berbentuk kekerasan dalam rumah tangga serta pelanggaran lalu lintas.

Melalui hasil studi yang dilakukan para peneliti di Indiana University School of Medicine, Indianapolis, menggunakan video game selama 30 menit sebagai model, pada 44 anak usia 13 hingga 17 tahun yang sebelumnya diketahui tidak memiliki masalah dengan perilakunya, yang dibagi dalam dua kelompok : sampel dan kontrol, ihwal penyebab hal itu terjadi sedikit terkuak.

Dengan bantuan functional magnetic resonance imaging (fMRI), yang dapat “mengintip” bagian yang kecil pada perubahan metabolis dalam aktifitas otak, diketahui, pada mereka yang ditugasi bermain video game dengan kekerasan terekam adanya peningkatan aktifitas amigdala –salah satu daerah di sistem limbik otak yang diantaranya berperan dalam terjadinya gangguan mood, mengatur respons sistem otonom dan neuroendokrin terhadap keadaan-keadaan yang menimbulkan stres, serta penyimpan memori yang berkaitan dengan emosi– dibanding mereka yang bermain video game tanpa kekerasan.

Diperkirakan, lambat laun, situasi tersebut dapat bepengaruh terhadap perilaku agresif yang bisa dicetuskan seseorang.

Keempat, mencegah perilaku seks bebas. 

Terutama bagi remaja putri, perilaku seks bebas di luar nikah membawa banyak kerugian. Selain bisa memancing terjadinya kehamilan di luar nikah yang selanjutnya potensial mencetuskan aborsi, ancaman tertular beragam penyakit kelamin sulit untuk dihindari.

Tak bisa disangkal, disamping sebab pergaulan yang terlalu bebas, tontonan yang ditawarkan kebanyakan stasiun televisi –dengan film dan sinetron tentang kehidupan liberal yang serba permisif– yang kurang terkontrol memiliki andil mencetuskannya.

Pangkahila dalam Gairah Seksual Yang Hilang menulis, sebagian remaja, baik pria maupun wanita, menjadi terangsang setelah menyaksikan adegan erotik. Rangsangan seksual yang terus diterima kemudian menimbulkan ketegangan seksual yang pada akhirnya menuntut pelepasan seksual. Tuntutan pelepasan seksual inilah yang mendorong remaja melakukan aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual.

Selamat mematikan TV.

=====*****=====

Yuga Pramita

Penulis Buku “Ayat-Ayat Sehat” dan “Diet Islami”

Iklan