Voa-Islamic Health (18) : Kala Kumis Perlu Dipersoalkan

itu kumis, itu kumis kumis kumis…
kumis lelaki, itu kumis kumis kumis….
terdampar dengan indahnya, antara hidung dengan bibir….
*****

Sahabat VOA-Islam – Masih ingat syair itu? Koboy jaman baheula boleh jadi bakal menganggukan kepala mengiyakannya, tersenyum, untuk kemudian menyanyikan lagu Bimbo berjudul “Kumis”, yang dulu didendangkan Iin Parlina dengan kenesnya.

Punya kumis itu asik. Mungkin dengan pertimbangan tersebut, beragam jurus untuk memancingnya keluar pun kemudian bermunculan, yang kata Krisyanto, vocalis Jamrud, dalam lagu “Naksir Abis,” mulai salep, vitamin hingga arang

Sebagian orang menganggap kumis bisa membawa berkah. Jangan salahkan jika karenanya, banyak yang menyeret-nyeret sebaris rambut dibawah hidung itu ke dalam urusan bisnis. Muncul kemudian nama “Bakso Pak Kumis” dan “Sate Pak Kumis,” meski terkadang yang dagangnya sendiri sudah membabat habis kumisnya.

Sebagian yang lain mengira bahwa kumis bisa menimbulkan kesan Macho. Media pun termasuk yang ikut-ikutan mengusung kesan tersebut. Tengok saja di film-film. Johnny Depp terlihat begitu jantan dengan kumis serta jenggotnya di sequel The Pirates Of The Carribian. Para perempuan pun menggilainya. Membuat banyak pria cemburu dan tergoda untuk meniru gaya sang aktor, dengan memelihara kumis sebagai jurus jitu guna bisa menaklukan sang pujaan hati.

Sementara untuk “konsumen” lokal, sesuai selera orang Indonesia, Bimbo punya standarnya: kalau mau terlihat gagah, kumis yang dimiliki hendaknya seperti “Kumis Raden Gatotkaca, (yang) hitam lebat dan perkasa”; sedangkan bila ingin meruntuhkan hati wanita, contohlah “Kumis Angkatan Udara, (yang merupakan) senjata ampuh bercinta”.

Namun adakalanya “kumis” juga bermakna memprihatinkan dan layak mendapat bantuan, terutama jika yang berbicara adalah seorang kepala daerah, saat berpidato tentang pencapaian pembangunan di wilayahnya. Tidak salah, “kumis” yang dimaksud pastilah “kumis” dalam arti kependekan dari “Kumuh dan Miskin”.

Islam dan Kumis

Diantara sekian banyak hal yang diatur Islam, kumis merupakan salah satunya. Pengaturan dimaksud bukan menyangkut model atau gayanya, melainkan perawatannya. Beberapa hadits yang menjelaskan perkara tersebut, diantaranya adalah :

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu : mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah).

“Kami telah diberi tempo dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan jangan sampai dibiarkan lebih dari empat puluh malam.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

“Barangsiapa yang tidak memotong (memendekkan supaya tidak menutupi bibirnya) maka bukan termasuk dari golongan kami.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i).

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “adalah beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong atau mencukur sebagian kumisnya dan demikian pula yang dilakukan Nabi Ibrahim – khaliilurrahmaan shalawaatullah ‘alaihi.” (HR Tirmidzi).

Dengan demikian, apapun model kumisnya: apakah mirip kumis Salvador Dali ataukah seperti kumisnya Rhenald Kasali, tak jadi soal, asal rajin merawatnya, terutama dengan memendekkannya hingga tidak menutupi bibir.

Mencegah Alergi

Selain terlihat rapih, terkesan elegan, dari sisi kesehatan, merawat kumis ternyata juga dapat menimbulkan dampak positif. Dilaporkan Rebecca Ley dalam dailymail.co.uk, hasil sebuah studi menunjukkan bahwa laki-laki yang rajin “mengkeramasi” kumisnya, 2 kali sehari, dan mencukurnya secara teratur, akan menurunkan kemungkinannya untuk mengonsumsi obat-obatan jenis antihistamin dan dekongestan – Antihistamin biasanya dipakai dalam pengobatan atas reaksi alergi. Sedangkan dekongestan umumnya digunakan untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat atau mampet sehingga pengobatan ini disebut simtomatik.

Menurut Dr Rob Hicks, penulis buku “Beat Your Allergy,” rajin mencuci kumis dan memotongnya akan membersihkan kumis dari beragam mikroorganisme dan alergen yang kerap nangkring di daerah tersebut. Halmana secara otomatis akan sangat bermanfaat dalam membantu tubuh menghindari terjadinya berbagai gangguan yang diakibatkan makhluk-makhluk imut tersebut.

Maka, rawatlah kumis Anda dengan baik. Jangan membiarkannya tumbuh tak teratur. [syahid/voa-islam.com]

Penulis: Yuga Pramita

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/health/2015/03/26/36099/voaislamic-health-18-kala-kumis-perlu-dipersoalkan/#sthash.GK6rKN0f.dpbs, akses tgl 27/03/2015.

Iklan