Voa-Islamic Health (8): Antara Harapan dan Kesehatan

Sahabat Voa-Islam, Konon, selain sebelum tiup lilin manakala ‘hari jadi’ tiba, di awal pergantian tahun serta kala mata terbuka di pagi buta, orang-orang biasa membumbungkan ‘sepotong’ harapannya. Berharap esok bisa lebih baik dari hari ini, minimal hidup tidak tetap kusut.

Harapan merupakan perasaan subyektif, prinsip spiritual yang tak dapat dilihat. Hal yang kerap memancing kemunculannya adalah tujuan, kebutuhan, atau tantangan hidup.

Walau tampak enteng, efek dari “ritual” tersebut ternyata tak bisa dipandang sebelah mata, utamanya jika dilihat dari sisi kesehatan. Health & Nutrition (Desember 1995), mencatat hasil survey longitudinal pada para lulusan harvard – dari tahun 1939 hingga 1944 – yang dipelopori George Vaillant, M.D., psikiatris Dartmouth Medical School. Tatkala respondennya menginjak usia paruh baya, mereka yang hidupnya penuh harapan cenderung terlihat lebih mampu mempertahankan kemudaannya, sementara yang dirasuki rasa pesimis lebih cepat dijambangi penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kanker.

Fakta lain, hasil kajian pada 100 korban serangan jantung di San Francisco Hospital mendapati, penderita yang senantiasa diliputi asa, lebih sedikit menderita serangan kedua, disamping mampu hidup lebih lama dibanding yang harapannya kembang-kempis.

Situasi yang tak jauh beda diungkap penulis The Anatomy of Hope,Jerome Groopman M.D.,. Dia memakai efek plasebo sebagai contohnya. Menggunakan tangan tenaga medis yang kompeten, plasebo (obat bohong-bohongan) diberikan pada sekelompok pasien yang tengah didera derita. Laporan pengamatan setelahnya menunjukan, beberapa gejala yang mereka rasakan berangsur hilang.

Kombinasi antara kepercayaan pada pengobat serta harapan akan mendapat kondisi lebih baik setelah menggunakan “obat manjur” yang diberikan, disebutkan Groopman, yang berpengaruh dalam hal ini.

Melalui kajian panjang, lika-liku ihwal bagaimana ini terjadi terjelaskan. Adanya komunikasi timbal balik antara sistem imun, endokrin dan pikiran, yang melibatkan kerja sistem saraf, merupakan penyebabnya (Machfoed, 2005). Sistem saraf memberikan ‘semacam peringatan’ pada sistem imun melalui sel neuroendokrin yang mengeluarkan molekul signal (signaling molecule), dikenal sebagai endorfin, kedalam aliran darah.

Seseorang yang sedang jatuh cinta –pada apa saja– atau harapannya tengah menggelegak, dalam tubuhnya akan menyebar endorfin. Selain bisa mengangkat mood, hormon ini pun sanggup menghambat rasa nyeri. Disamping itu, berdasar hasil penelitian, sebagaimana dikatakan Tjokronegoro (2001), ditunjukkan bahwa peninggian kadar endorfin dapat membuat sistem imun bekerja lebih efektif. Endorfin meningkatkan aktivitas beberapa sel sistem imun dan membantu sel lain melawan substansi berbahaya dalam tubuh dengan lebih agresif.

Harapan Yang Patah

Namun harapan tak serta merta bisa berjalan sebagaimana yang diinginkan, tak sedikit bahkan yang terganggu “hantu” –mulai “hantu” longsor, banjir, penggusuran, ketidakadilan, korupsi, janji palsu, bahkan pemunculan kebijakan yang tidak bijak, serta beraneka bencana lain yang sebetulnya dapat diantisipasi– menjadikannya patah.

Harapan yang patah dapat mencetuskan beragam situasi buruk, tidak hanya pada manusia yang mengalaminya tapi lebih luas lagi. Dalam pandangan kesehatan, mereka yang pikirannya kusut lantaran marah atau permusuhan akan mendongkrak produksi epinefrin (adrenalin) dan zat kimiawi kuat lainnya. Pembuatan dan pelepasan jangka panjang substansi tersebut dapat memancing peningkatan tekanan darah, penyakit jantung, ulkus, dan seabrek problem lanjutannya.

Sementara yang selanjutnya berkubang depresi dan keraguan diri akan menyintesis banyak hormon seperti kortisol. Kortisol adalah substansi tubuh yang penting dan diperlukan, tetapi jika sudah kelewatan dapat berefek sebaliknya, merontokkan sistem imun, mendorong timbulnya infeksi hingga kanker.

Sedang dari kacamata sosial, ditulis Fromm dalam Revolusi Harapan, dua hal genting yang bakal dicetuskannya : Pertama, “pembekuan hati” – dari anak-anak yang nakal sampai orang dewasa yang keras kepala.

Dan Kedua, yang lebih tragis adalah munculnya tindakan destruktif dan kekerasan. Orang yang patah harapannya akan membenci hidup. Karena tidak dapat “menciptakan” hidup, maka mereka ingin menghancurkannya. Mereka menuntut dan melemparkan dirinya dalam kehancuran total sedemikian rupa sehingga adalah masalah sepele apakah dia menghancurkan atau dihancurkan orang lain.

Berharaplah pada Allah

Belum lama berselang Indonesia memiliki penguasa baru. Meski kontroversi masih terjadi disana-sini, suka atau tidak, palu terlanjur di ketuk, keputusan telah ditetapkan. Kelak, di buku-buku sejarah nama beliau bakal tercantum sebagai presiden.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan kemudian? Layakkah kita berharap padanya?

‘Sekedar’ berharap rasa-rasanya tak kan ada yang melarang, lain perkara kalau berharapnya sampai ‘masuk ati’. Demi menghindari sakit ati, lantaran harapannya tak jadi-jadi.

Disamping beragam faktor lain, masa jabatan beliau yang terbatas: lima tahun (kalau mulus) atau maksimal sepuluh tahun (kalau mulusnya banget-banget), mungkin merupakan salah satu penyebabnya.

Agar aman, tidak jatuh dalam kubangan frustrasi dan depresi, berharaplah hanya pada Allah saja. Dialah yang Maha Sempurna, pemilik jagat dan seluruh isinya. Penggenggam jawaban atas segala harapan. Penguasa sejati, yang kekuasaan-Nya tak terbelenggu jarak dan waktu, tak terhalangi situasi dan kondisi.

Rasulullah saw berpesan,

Dari Ibn Abbas radhiyalahu anhu, dia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shallahu Alayhi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Ghulam, sesungguhnya aku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu dengan seuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Ahmad).

Ya, berharaplah hanya pada Allah. Agar bisa tetap sehat, sekaligus selamat dunia-akhirat.

=====*****=====

Yuga Pramita, 

penulis buku “Ayat-Ayat Sehat”.

sumber : http://www.voa-islam.com/read/health/2014/10/24/33556/voaislamic-health-8-antara-harapan-dan-kesehatan/#sthash.CIJcLSdj.dpbs, akses tgl 24/10/2014.

Iklan