Obat Herbal, Siapa Bilang Selalu Aman?



dakwatuna.com – Obat herbal adalah obat dengan bahan asal tanaman, bisa berupa daun, akar, biji-bijian atau lainnya, yang mengandung unsur kimia berkhasiat untuk tubuh. Sejatinya, Obat ini merupakan dasar pengobatan medik di berbagai pelosok dunia selama berabad-abad.

Pengaruh obat herbal sangat kuat. Berbagai macam pengobatan alternatif jenis lainnya kerap kali menyertakan obat herbal dalam salah satu bagiannya, sebagaimana terjadi juga dalam pembuatan obat modern – banyak obat-obatan yang dipergunakan sekarang berasal dari obat herbal: sekitar 25% obat yang diresepkan di Amerika berisi sedikitnya satu bahan aktif yang berasal dari tanaman. Beberapa berasal dari ekstrak murni, sedang sebagian lainnya merupakan hasil sintesis yang mirip bahan aslinya.

Dewasa ini, perkembangan obat herbal diindikasikan menapaki kemajuan. Tidak hanya semakin digandrungi masyarakat negara berkembang, bahkan juga negara maju. Suatu survei di Amerika yang dilaksanakan berbeda 7 tahun (tahun 1990 dan tahun 1997) memperlihatkan suatu peningkatan yang signifikan penggunaan pengobatan alternatif, dari 34% pada tahun 1990 menjadi 42% pada tahun 1997. Jika dihitung dengan uang, pengeluaran biaya untuk pengobatan alternatif ini telah mencapai sekitar 27 miliar dolar pada tahun 1997, atau kira-kira sebanding dengan pemakaian obat konvensional pada tahun yang sama. Yang meningkat sangat menyolok dari rupa-rupa pengobatan alternatif ini adalah penggunaan obat-obat herbal, dengan jumlah sebesar 5,4 miliar dolar – suatu peningkatan 4 kali lipat dibanding tahun 1990. Pada tahun 2000 penjualan global obat berbahan tumbuhan ini mencapai US $ 60 miliar.

Salah satu alasan mengapa terjadi kecenderungan kenaikan penggunaan obat-obat herbal dan CAM (Complementary and Alternative Medicine), menurut sebuah survei di Amerika Serikat pada para penderita penyakit hati yang juga pengguna obat-obatan herbal, adalah karena banyaknya penderita yang merasa kurang puas dengan hasil pengobatan konvensional.

Minim Efek Samping

Alasan lain kenapa obat herbal bisa ‘naik daun’ adalah karena adanya kepercayaan bahwa obat ini lebih minimnya efek sampingnya dibanding obat-obatan modern – lantaran kandungan pada bahan alam umumnya bersifat seimbang dan saling menetralkan.

Namun, benarkah demikian?

Uraian Robert Fieldhouse dalam Drug interactions: New data underline the role of drug interactions in treatment failure, membuktikan situasi sebaliknya. Dalam artikel tersebut dituliskan dampak dari interaksi St John’s Wort (hypericin), “jamu” yang dipakai untuk mengobati depresi ringan, dengan protease inhibitor (PI) indinavir, yang dapat mengakibatkan penurunan 57 persen tingkat puncak indinavir, dan 81 persen untuk tingkat rendahnya. Penurunan sebesar ini dapat mengakibatkan pengembangan resistansi terhadap obat dan kegagalan pengobatan.

Demikian halnya pada kasus penggunaan sediaan Ayurvedic (pengobatan tradisional di India) yang disebut shankhapushpi, di mana dilaporkan mengakibatkan penurunan konsentrasi serum fenitoin, yang mengakibatkan hilangnya kontrol terhadap kejang.

Efek samping obat herbal rupanya juga tidak hanya akan muncul manakala dipakai bersama dengan obat lain saja, bahkan manakala dikonsumsi secara tunggal.

Munculnya hal ini bisa dicetuskan rupa-rupa sebab, sebut umpamanya karena salah identifikasi tanaman obat, sebagaimana dalam kasus terjadinya interstitial renal fibrosis dan gagal ginjal pada pengguna “jamu” Cina yang disebut-sebut berkhasiat menguruskan badan. “Jamu” ini sendiri pernah beredar di Belgia antara tahun 1990 – 1992. Selidik punya selidik, yang jadi penyebab ternyata ada pada kesalahan pengidentifikasian tanaman, di mana tanaman obat yang biasa dipakai sebagai pengurus badan sebenarnya adalah fang ji (Stephania tetranda) dan hou pu (Magnolia officinalis), namun formula yang dipakai selama 12 bulan adalah quang fang ji (aristolochic fang chi) yang biasanya digunakan untuk arthritis, memiliki efek diuretik dan memang mempunyai efek toksik terhadap ginjal.

Atau lantaran kelebihan dosis, seperti terjadi dalam kasus munculnya nyeri kepala hebat pada seorang wanita muda, yang dicatat Dr. Yuda Turana, setelah mengonsumsi ginseng, yang populer digunakan untuk meningkatkan vitalitas, stamina dan konsentrasi, secara berlebih. Pada kasus lain pernah dilaporkan pula adanya sindrom Steven-Johnson setelah penggunaan ginseng selama 3 hari dengan dosis reguler.

Di samping itu bisa pula sebab kontaminasi unsur lain, misalnya beragam logam berat, seperti timbal, merkuri, arsen, aluminium, atau timah, yang memang sudah banyak diberitakan berbahaya bagi kesehatan. Unsur-unsur itu sendiri dapat menyelusup ke dalam obat herbal melalui berbagai jalan: bisa sebab telah terkontaminasinya lahan tempat tanaman obat itu tumbuh, bisa pula karena kekurangtelitian sangat pengolahan.

Selalu Waspada

Repotnya, utamanya bagi penderita yang terkena dampak buruk gara-gara obat herbal ini, di negeri kita, upaya untuk meminta pertanggungjawaban tampaknya masih jauh panggang dari api. Suka atau tidak, pada akhirnya kewaspadaan penggunalah yang mesti senantiasa ditingkatkan.

Kemenkes melalui badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) memberikan beberapa rambu yang mesti diperhatikan pengguna sebelum memutuskan menggunakan obat herbal. Rambu-rambu yang dapat dilihat di bagian etiket tersebut, sekurangnya-kurangnya harus mencantumkan:

  • Nama obat tradisional
  • Ukuran kemasan (Berat bersih / Isi bersih)
  • Nomor pendaftaran (No….) Nama dan alamat industri (sekurang-kurangnya nama kota dan negara)
  • Komposisi (Nama latin bahan baku)
  • Khasiat / Kegunaan
  • Cara pemakaian
  • Peringatan dan kontra indikasi (bila ada)
  • Nomor kode produksi
  • Batas kadaluwarsa

Di samping itu, khusus untuk produk lokal, harus mencantumkan kata jamu dalam lingkaran pada kemasannya:

Sementara untuk produk lisensi, diwajibkan mencantumkan lambang daun dalam kemasannya:

Adapun untuk produk impor harus mencantumkan:

  • nama importir / distributor di Indonesia
  • informasi harus ditulis dengan huruf latin dalam bahasa Indonesia di samping bahasa aslinya.

Jika ciri-ciri tersebut tidak didapati, langkah paling aman adalah segera meninggalkannya.

**—**



Pustaka:

  • ……………; “Persyaratan Pendaftaran Obat Tradisional” ; InfoPOM Vol. 3 Edisi 3: Juli 2002
  • Soedijani, Niniek, Dr. ; “Keamanan, Efektifitas dan Regulasi Obat Herbal” ; disajikan dalam Simposium dan Pameran “Pengembangan Obat-Obatan Herbal: Kemanfaatan Dan Peningkatan Perannya Di Tahun 2006” ; Bandung, 19 – 20 Mei 2006.
  • Sulaiman, H. Ali, Prof., dr., Ph.D., FACG ; “Peranan Obat Herbal Dalam Penanggulangan Penyakit Hati” ; disajikan dalam Simposium dan Pameran “Pengembangan Obat-Obatan Herbal: Kemanfaatan Dan Peningkatan Perannya Di Tahun 2006” ; Bandung, 19 – 20 Mei 2006.
  • Soemardji, Andreanus A., Prof., Dr., DEA, Apt ; “Mutu, Efikasi Dan Keamanan Praklinis Serta Catatan Penggunaan Suatu Sediaan Ramuan Herbal” ; disajikan dalam Simposium dan Pameran “Pengembangan Obat-Obatan Herbal: Kemanfaatan Dan Peningkatan Perannya Di Tahun 2006” ; Bandung, 19 – 20 Mei 2006.
  • …………………. ; “Hati-hati Memilih Makanan Suplemen” ; http://rumahkanker.com/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=1
  • ……………; “Efek Samping Obat Herbal Bisa Dihindari” ; http://www.lifefeature.com/news.php?newsId=690
  • Turana, Yuda, Dr. ; “Tanaman Obat, Tidak Lepas Dari Efek Samping” ; http://www.medikaholistik.com/2033/2004/11/28/medika.html?xmodule=document_detail&xid=73
  • Harimurti, Sabtanti, S.Si., Apt.; “Perkembangan Bentuk Sediaan Obat” ; http://www.mti.ugm.ac.id/~adji/courses/resources/Antik/TekFarmasi.doc
  • Fieldhouse, Robert ; “ Peranan interaksi obat pada gagalnya terapi (Sumber: Aids Treatment Update Issue 88, April 2000)” ; http://www.aidsmap.com/files/file1000670.pdf

Yuga Pramita

Penulis buku “Ayat-Ayat Sehat”.

sumber : http://www.dakwatuna.com/2014/11/14/60001/obat-herbal-siapa-bilang-selalu-aman/#axzz3IahZ9ygH, akses tgl 14/11/2014.

Iklan