Kenapa Tak Boleh “Balas Dendam” Kala Berbuka?



Disamping memiliki perbedaan, diantaranya dalam perkara niat, diam-diam, antara puasa dalam syariat Islam dengan retriksi energi untuk tujuan mendongkrak derajat kesehatan ternyata ada kesamaannya: keduanya tidak mengidentikan diri dengan malnutrisi, kelaparan atau puasa berkepanjangan, yang dapat diibaratkan sebagai bentuk retriksi energi ekstrim dan harus dihindarkan.

Sinyal-sinyal awal yang kerap dimunculkan dari kelaparan sendiri biasanya adalah: dari sisi fisik, orang umumnya akan dilanda rasa lelah, pusing, mengantuk, rambut rontok serta kulit menjadi cepat kering. Sedangkan dari segi psikis, mulai timbul gangguan emosional dan fungsi kognitif.

Situasi dapat menjurus menjadi “tak terkendali” jika lapar terjadi berhari-hari. Halmana akan memunculkan konsekuensi yang serius seperti kelemahan otot, ketidakseimbangan elektrolit, sembelit, mudah merasa dingin, perubahan tekanan darah, menurunnya sistem kekebalan tubuh, detak jantung yang tidak teratur hingga gagal ginjal.

Sedangkan dampak terhadap emosional adalah menjadi lebih sensitif, mudah marah, depresi dan gelisah. Jika kondisi ini terus berlanjut bisa mengakibatkan masalah mental yang lebih serius, seperti kehilangan emosi dan kemampuan kognitif yang rusak.

Supaya kerusakan tidak menjalar kemana-mana, situasi kembali “kondusif terkendali”, dibutuhkan pasokan pengganti beragam unsur dalam tubuh yang telah pergi. Ini berarti orang harus makan atau berbuka, sebagaimana diperintahkan dalam ajaran Islam, diantaranya :

1. Dari Sahl bin Sa’ad ra., katanya Rasulullah saw, bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka itu menyegerakan berbuka”. (HR. Bukhari).

2. “Ummatku senantiasa mengikuti sunnahku selama dalam buka puasanya tidak menunggu-nunggu bintang.” (Shahih At-Targhib wat Tarhib (1016)).

Hebatnya, agar keadaan tambah mantap, Islam tidak hanya memerintahkan orang untuk menyegerakan berbuka saja, tapi juga melaksanakan sahur.

Dari Anas Ra., Nabi Saw, bersabda : “Sahurlah kamu, karena di dalam sahur itu terdapat berkat.” (HR. Bukhari).

Hebatnya, agar keadaan tambah mantap, Islam tidak hanya memerintahkan orang untuk menyegerakan berbuka saja, tapi juga melaksanakan sahur.

Dengan demikian jelaslah bahwa puasa dalam Islam bukanlah ibadah yang bertujuan untuk membuat orang sakit atau tubuh hamba-Nya amburadul.

Masalahnya, utamanya di awal-awal puasa, tak sedikit orang yang keliru menyikapinya, salah satunya dengan memunculkan perilaku “balas dendam” kala berbuka.

Saat yang membahagiakan

Kata orang, acara TV paling menarik, karenanya juga paling ditunggu-tunggu kehadirannya, kala puasa, adalah adzan maghrib. Walau ungkapan tersebut boleh jadi sekedar humor, namun dari sisi agama hal itu tampaknya memiliki nilai kebenaran. Diungkap sebuah hadits,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ 

“Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; gembira ketika berbuka puasa dan gembria ketika berjumpa Tuhannya dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim).

Meski demikian, Rasul yang mulia menasehati, agar orang tidak lepas kendali karenanya. Disebut Badrul Tamam, dalam artikel berjudul “Langsung Makan Besar Saat Berbuka, Salah!” sunnah santapan berbuka adalah ruthab, yaitu kurma yang dipetik saat masih muda dan tidak dikeringkan. Jika tidak ada maka dengan kurma kering. Dan jika tidak tersedia maka berbuka dengan minum air.

Disamping mudah cerna, mampu memulihkan stamina dengan segera, sajian tersebut dapat bermanfaat juga dalam menyiapkan “mesin” pencernaan untuk kerja berat beberapa saat kemudian – itu sebabnya pula, setelah acara pertama ini selesai, orang dianjurkan untuk melaksanakan shalat maghrib.

Yang repot adalah seperti yang diungkap Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan dalam Al-Mulakhash Al-Fiqhi, sebagaimana dikutip Badrul Tamam. Beliau menyebutkan kesalahan yang sering dilakukan para shaimin saat berbuka. “Sebagian orang terkadang duduk di meja makan berbukanya, dia langsung makan malam (makan besar,-terj) dan tidak shalat berjamaah di masjid,” tuturnya di I/381.

Celakanya lagi, tak sedikit pula yang selain makan besar, makannya banyak sekali, gak ketulungan.

Sejak jauh hari rasulullah saw telah mengingatkan pengikutnya untuk meninggalkan kebiasaan terlalu banyak makan. Dari Abu Hurairah Ra., berkata, “Ada seseorang laki-laki yang biasanya banyak makan, setelah orang tersebut masuk Islam, makannya sedikit”. Hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Orang beriman makan untuk satu perut, orang kafir makan untuk tujuh perut”. (HR. Bukhari).

Selain bertentangan dengan sunnah serta membebani kerja lambung, perilaku “balas dendam,” yaitu melahap sajian hidangan dalam porsi besar, sebagai tumpahan “rindu” gara-gara tidak diperbolehkan makan di siang hari, bisa pula menimbulkan rasa lemas setelah makan akibat food coma, yang dalam bahasa medis biasa disebut postprandial somnolence atau postprandial drowsiness, dengan gejala : timbulnya rasa kantuk, kelesuan dan kurangnya motivasi untuk melakukan sesuatu setelah makan, sehingga seperti orang koma.

Agar situasi food coma tidak terjadi, orang perlu mengusahakan supaya tidak mengonsumsi satu porsi besar makanan sekaligus, tapi dipecah menjadi beberapa porsi kecil dengan interval yang lebih sering

Agar situasi food coma tidak terjadi, orang perlu mengusahakan supaya tidak mengonsumsi satu porsi besar makanan sekaligus, tapi dipecah menjadi beberapa porsi kecil dengan interval yang lebih sering sehingga energi yang diperlukan untuk mencerna tidak terlalu besar.

Disamping itu, diperlukan penjagaan aktivitas agar tetap konstan (dengan berangkat untuk shalat berjamaah di mesjid), tidak malah tenggelam menikmati kekenyangan sambil tiduran di atas sofa.

Jangan lupakan juga untuk mencukupkan konsumsi air, yang akan membantu kerja pencernaan supaya tetap lancar, sekaligus membuat tubuh tetap segar.

Jadi, berbukalah dengan wajar. Andai bisa, usahakan ikuti sunnah, agar Ramadhan benar-benar jadi ladang pahala, berlimpah berkah.

Allahu’alam

===***===

Oleh Yuga Pramita
(Penulis “Ayat-Ayat Sehat” dan “Diet Islami”)
sumber : http://www.voa-islam.com/read/health/2015/06/20/37730/voaislamic-health-25-kenapa-tak-boleh-balas-dendam-kala-berbuka/#sthash.GdH7GMwe.dpbs, akses tgl 20/06/2015.

Iklan