Bayam, Bisa Bikin ”Mencrang” Otak

ADA 2 jenis bayam yang biasa dikonsumsi orang: bayam putih (amaranthus tricolor) yang memunyai daun bulat berdaging serta bayam kakap (amaranthus hybridus) yang ujung daunnya runcing. Sementara 2 lainnya: bayam duri (amarantrhus spiosus) dan bayam itik (amaranthus blitum), nasibnya sering dicuekin lantaran rasanya kurang sedap.

Bayam dapat dibudidayakan di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl (tidak menyukai air berlebihan karena perakarannya mudah busuk) dengan cara menyebar benih di bedengan dalam bentuk barisan, dengan jarak lebih kurang 20 cm.

Pemupukan dilakukan pada waktu benih sudah tumbuh seluruhnya, biasanya setelah 7 hari. Selain nitrogen (pupuk N), yang paling baik digunakan adalah ZA atau urea dengan dosis 10 gr urea/m2 atau 36-48 gram per bedengan (ZA = 20gr/m2 atau 72-96gr per bedengan).

Setelah berumur 25 hari, tanaman yang telah besar dapat dicabut sebagai pungut hasil pertama. Bayam kecil dibiarkan tumbuh sampai waktunya dipungut kemudian hari (dilakukan 3 hari sekali). Dengan cara mencabut “individu” besar saja, bayam akan dapat dipungut hasil terus-menerus.

Saat umurnya 50 hari, semua tanaman sudah harus selesai dipungut. Tanaman yang terlalu tua, di samping jaringannya banyak mengandung serat, rasanya sudah tidak sedap.

Bikin “mencrang” otak

Pada penyuluhan gizi sehari-hari, bayam sering disebut sebagai pencegah kebutaan dan pengendalian anemi. Hal ini karena bayam kaya akan karoten — bakal vitamin A — dan besi, yang memang andal menangkal situasi tersebut. Namun orang sering lupa, bahwa tanaman ini pun sebetulnya memiliki unsur lain yang juga bisa dijagokan, yaitu vitamin C dan K (menadion). Terutama pada fase perkembangan, unsur-unsur tersebut akan berkolaborasi, bikin mencrang otak.

Jika karoten — yang keaktifannya disamakan dengan vitamin A — terkait dengan sintesis protein dan DNA, sedangkan besi merupakan microelement esensial, berperan penting pada beragam reaksi biokimia. Terdapat dalam enzim-enzim yang bertangung jawab untuk pengangkutan elektron (sitokrom), pengaktifan oksigen (oksidase dan oksigenase) dan pengangkutannya (hemoglobin, mioglobin), rupanya memiliki pengaruh dalam proses nyelinasi, “pembungkusan” urat saraf, serta fungsi neurotransmitter, melalui “pemolesan” reseptor saraf dopamine, yang berperan dalam kepekaan, daya konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan lainnya.

Webb dan Oski (1973) dalam Almatsier (1989) yang melakukan penelitian terhadap 193 siswa sekolah menengah pertama berumur 12-14 tahun di Philadelphia, Amerika Serikat (terdiri dari 92 siswa anemik, dan sisanya normal) menjumpai siswa anemik yang ternyata memiliki skor lebih rendah dalam tes daripada kelompok nonanemik. Begitu juga ketika anak-anak tersebut diuji dalam kemampuan menceritakan kembali hal-hal yang secara visual diperlihatkan mereka. Kelompok anemik membutuhkan waktu lebih lama (4,08 detik) daripada kelompok nonanemik (1,81 detik) untuk dapat menceritakan kembali apa yang sebelumnya telah diperlihatkan itu.

Hasil studi lain yang dilakukan Rebecca Stoltzfus dan koleganya dari John Hopkins University Schoool of Public Health, di Pulau Pemba, kepulauan Zanzibar, pada 614 anak usia prasekolah, 6-59 bulan, tentang efek pemberian suplemen besi (ferrous sulphate 10 mg per hari), seperti diwartakan Walgate dalam Bulletin of the World Health Organization (2002, 80 (2)), memperlihatkan pula, anak yang diberi suplemen memiliki keterampilan bercakap lebih cepat dibanding yang diberi placebo (suplemen bohong-bohongan), dengan tingkat perbedaan sebanyak 0,8 hingga 20 poin skala (diindikasikan juga ada pengaruh terhadap perkembangan motorik lainnya).

Sementara peran vitamin C, selain dalam reaksi mendukung otak memanfaatkan protein dan B kompleks untuk pembentukan sel, myelin, dan neurotransmitter, bermanfaat juga dalam kemampuan tubuh menyerap besi. Dalam pengobatan Alzheimer, Nurachman (2002) melaporkan, vitamin ini pun bisa dijadikan “kuda trojan” tanpa menimbulkan efek samping. Penderita Alzheimer pada stadium ringan akan menunjukkan kelambanan diikuti penurunan daya ingat, terutama nama orang, benda, atau peristiwa.

Adapun vitamin K, ternyata merupakan kofaktor enzim karboksilase yang mengubah residu protein berupa asam glutamat (glu) menjadi gama-karboksiglutamat (gla). Gla-protein diduga memiliki peran dalam metabolisme sulfatida yang diperlukan untuk pengembangan otak.

Sayangnya besi bayam bersifat nonheme hingga sulit diserap tubuh, di samping juga mengandung asam fitat. Guna mengakalinya, konsumsilah bayam bersama daging, ayam, atau ikan.

Ketiga bahan tersebut memiliki asam amino yang pintar mengikat besi dan membantu penyerapannya. Serta jangan menyelinginya dengan minuman mengandung tannin, misalnya teh. Tannin dapat menghambat absorpsi besi.

Selain itu, perhatikan pula pengolahannya. Kekeliruan mengolah bisa berdampak pada penurunan nilai gizinya. Hasil analisis Direktorat Bina Gizi Masyarakat bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Departemen Kesehatan RI menunjukkan, bayam seupan (kukus) yang asyik dijadikan coel sambal memiliki nilai gizi lebih tinggi dibanding bayam rebus, yang disajikan dalam bentuk sayur bening.***

Oleh Yuga Pramita
Sumber : Pikiran Rakyat, 29/12/2002, p. 6.


Iklan