Tempe dan Telur Bagi Bayi



dakwatuna.com – Masa bayi ditandai oleh pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Kebutuhan gizinya jauh lebih komplit daripada mereka yang lebih tua, tetapi kemampuan saluran pencernaannya lebih kecil daripada orang dewasa. Selama periode ini, bayi tergantung  sepenuhnya pada perawatan dan pemberian makan oleh ibunya.

ASI adalah satu-satunya makanan terbaik bagi bayi. Di samping alamiah, mudah  dicerna dan diabsorpsi serta memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangannya hingga usia 6 bulan, ASI juga mampu melindungi bayi dari penyakit infeksi, alergi dan kegemukan.

Untuk memenuhi kebutuhan gizinya yang terus meningkat, selepas usia 6 bulan bayi perlu mendapat makanan tambahan yang macam dan jumlahnya disesuaikan dengan keadaan fisiologisnya.
Syahmien Moehji, dalam buku Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita mengidentifikasi 2 hal saling mempengaruhi yang bisa mengancam tumbuh-kembangnya pada saat ini. pertama, bahaya ketidakcukupan asupan zat gizi, yang mengakibatkan terjadinya gizi buruk; Kedua, penyakit infeksi.

Kondisi gizi buruk akan berdampak pada penurunan produksi antibodi dalam tubuh. Penurunan antibodi bisa menyebabkan mudah masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh, menyebabkannya mengalami kemunduran fungsi serta mengganggu produksi enzim yang berguna untuk membantu mencerna dan menyerap makanan. Situasi demikian akan memperburuk keadaan gizi bayi.

Sementara hadirnya penyakit infeksi akan menurunkan nafsu makan, menyebabkan bayi menolak makanan yang diberikan. Penolakan terhadap makanan berarti berkurangnya asupan zat gizi ke dalam tubuh, memperburuk status gizi bayi, dan memperparah penyakit infeksi yang diderita.

Perhatikan lemak

Bayi sedang dalam proses belajar makan. Padanya perlu ditanamkan kebiasaan makan yang baik. Makanan yang diberikan ibu kepada bayi akan mempengaruhi kebiasaan makan selanjutnya. Memperkenalkan bermacam-macam makanan yang sesuai dengan keadaan fisiologisnya sejak dini merupakan langkah yang bijak, selain dapat membuatnya menyukai aneka makanan kelak, juga akan lebih menjamin tercukupi kebutuhan gizinya. Ada baiknya juga untuk menggunakan makanan setempat, yang murah tapi sehat. Pada permulaan pemberian makanan, sebaiknya diberikan sedikit-sedikit, berangsur ditambah sampai dapat menghabiskan porsi yang disediakan.

Bahan utama yang digunakan untuk membuat makanan tambahan harus bernilai gizi tinggi, mudah dicerna dan diabsorpsi. Di samping perlu memperhitungkan keberadaan energi dan proteinnya, Karyadi (1989) menganjurkan pula untuk memperhatikan lemak. Asam lemak essensial, seperti asam linoleat, bersama kolesterol membentuk 75% dari bagian myelin, sisanya, 25%, dari protein dan vitamin B12. Sampul myelin membungkus urat saraf yang mempercepat penghantaran impuls saraf. Kekurangan myelin bisa menyebabkan kacaunya penghantaran dan koordinasi neuromuskuler.

Proses myelinasi berlangsung sejak kehidupan dalam kandungan sampai berusia 3 tahun. Jika proses itu terganggu dapat mengakibatkan penurunan prestasi belajar dan kelainan perilaku di kemudian hari. Gejala lain kekurangan asam linoleat pada bayi, seperti ditulis F.G. Winarno dalam buku Gizi dan Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan adalah kulit mengalami kekeringan dan beberapa bagian terkelupas, penebalan, di samping juga terjadinya kelambatan pertumbuhan.

Tempe dan telur

Bagi masyarakat kita, tempe bukanlah makanan baru. Selain praktis dan gampang didapat, mengonsumsi tempe juga memiliki kenikmatan tersendiri, meski terkadang ujug-ujug harus kesal ketika tak sengaja mengunyah kerikil yang kerap ada di dalamnya.

Tempe memiliki kandungan gizi tinggi. Mahmud dan Hermana (1989) menyebut, protein yang disajikannya telah terhidrolisis menjadi asam-asam amino bebas dan nitrogen terlarut sehingga mudah dicerna dan diabsorpsi; Mengandung asam lemak bebas, asam lemak tidak jenuh rantai sedang, yaitu oleat (18 : 1) linoleat (18 : 2), dan linolenat (18 : 3); Kaya dengan vitamin B: Riboflavin, vitamin B6, asam pantotenat, biotin, senyawa folat, asam nikotenat dan vitamin B12, kecuali tiamin. Tentang vitamin B12-nya dilaporkan Karta (1990), sebagai yang paling baik di dunia.

Di samping itu, tempe juga mengandung senyawa anti bakteri yang aktif terhadap beberapa bakteri gram positif. Wang et al (1969) seperti dikutip Winarno (1985) mengidentifikasi beberapa jenis bakteri yang terhambat pertumbuhannya oleh tempe : Staphylococcus Aureus, Streptococcus Cremoris, Bacillus Subtilis, Clostridium Perfringens dan Clostridium Sporogenes.

Sayangnya kandungan kalori tempe kecil. Agar bisa diberikan pada bayi, tempe perlu diolah lagi dengan menambahkan bahan lain, menjadi formula tempe. Hingga jadi makanan berenergi tinggi dan mengandung glukosa polimer.

Sedangkan telur, yang disebut orang Amerika Wonderful food, tidak hanya merupakan bahan makanan yang kaya akan vitamin A, D, B2, mineral Ca dan P, tapi juga memiliki mutu protein yang sangat baik, sebab terdiri dari asam-asam amino essensial yang dianjurkan FAO. Sementara butir-butir lemaknya sudah dalam keadaan emulsi hingga mudah dicerna. Kolesterol yang tinggi berada di bagian kuningnya.

Andai saja terkontrol, pemberian telur pada bayi justru sangat bermanfaat untuk tumbuh-kembangnya.

Tapi telur juga memiliki kelemahan. Berat molekulnya yang tinggi, terkadang menimbulkan reaksi alergi berupa gatal-gatal, yang kalau digaruk mengakibatkan lecet, menyebabkan bisul. Belum matangnya sistem kekebalan pada tubuh bayi, disebut-sebut sebagai penyebabnya. Agar aman, mulailah dengan memberikan sedikit demi sedikit, dimulai dari bagian kuningnya. Sebaiknya pula perkenalan dimulai saat usianya sudah mencapai 9 bulan.

===***===
Yuga Pramita
Iklan