Kiat Mengantisipasi Stres Saat Berhaji

dakwatuna.com – Meski dalam pelaksanaannya terbilang berat, ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang mendapat tempat istimewa bagi setiap muslim. Tak perlu heran, jika karenanya banyak orang yang rela mbela-belain diri demi bisa menunaikannya.

Terjaganya kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan ibadah ini. Walau kondisi sakit bukan merupakan halangan yang berarti menutup kesempatan seorang calon haji menjadi haji, namun paling tidak, saat sakit seorang jamaah kecil kemungkinannya untuk bisa lebih leluasa beribadah sehebat jamaah yang sehat.

Sayangnya tak sedikit jamaah yang kepentok situasi yang tidak diinginkan tersebut. Beberapa malah sudah merasakannya manakala berada di asrama haji. Jadilah mereka melewatkan hari-hari berhajinya di pondokan, atau bahkan di rumah sakit.

Ada banyak penyebab sakit. Salah satu yang sering disebut adalah stres. Kata Cooper, penulis Antioxidant Revolution, stres dapat meningkatkan pembentukan molekul “pemberontak”, radikal bebas. Banyaknya radikal bebas selanjutnya akan berdampak pada melemahnya sistem pertahanan tubuh, memancing munculnya beragam penyakit, tidak hanya yang ringan tapi juga gawat.

Sementara Guricci (1992) mengidentifikasi dampak-dampak berikut : Pertama, penurunan kemampuan menyerap kalsium (Ca) dibarengi dengan peningkatan pengeluarannya, hingga membuat tubuh cepat lelah.; Kedua, mengganggu penyerapan sekaligus dapat menghilangkan 35 –  40% protein tubuh, menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, luka yang sukar sembuh, dan insufisiensi pernapasan.; Ketiga, dilepaskannya hormon katekolamin saat stres, bisa memperberat penyakit diabetes mellitus. Metabolisme asam lemak meningkat, sementara kadar gula dalam darah menurun.; Keempat, dapat menyebabkan gejala ulkus peptikum, gara-gara merojolnya pepsin dan asam lambung.; Kelima, bagi para pecandu kopi, stres juga mampu menaikkan tekanan darah, denyut jantung, serta frekuensi pernapasan.; dan Keenam, stres dapat meningkatkan kebutuhan vitamin C – diperlukan guna memproduksi hormon tiroksin, yang berfungsi mengatur metabolisme basal dan temperatur tubuh.

Kalau saat stres aktifitas terus digenjot, apalagi jika kemudian tidak disertai asupan makanan yang baik, kualitas maupun kuantitasnya, akan membuat kondisi tubuh tambah anjlok. Dan manakala pada saat yang sama bibit penyakit bertingkah semakin “genit”, orang yang didera stres bakal kesulitan mengelak darinya. Tubuh pun kemudian lunglai terkulai. Jatuh sakit.

8 kiat

Situasi pemancing munculnya stres pada jamaah haji terjadi ‘dari ujung ke ujung’. Sejak mulai pendaftaran hingga pulang ke rumah. Ketika hendak melakukan pembayaran ONH misalnya, jamaah bisa stres lantaran takut tidak bisa berangkat, masuk dalam waiting list.

Atau manakala menjalani manasik (selain lumayan menguras tenaga serta membuat jidat berkerut sebab kudu mengingat tatacara ritual di berbagai tempat, jamaah juga dibebani setumpuk doa yang harus dihafalkan. Ketakutan tidak mampu menghafalkan, pada akhirnya justru membuat doa-doa tersebut memang tidak mampu dihafalkan, dan membuat stres semakin menjadi), saat perpisahan dengan sanak keluarga, ketika menjalani karantina, atau, bagi orang-orang tertentu, pada waktu menaiki pesawat terbang.

Demikian halnya tatkala mulai berada di tanah suci. Selain ujug-ujug mesti disengat temperatur yang tidak bersahabat; letak pondokan yang jauh dari tempat tujuan; naik turun alat transportasi dari satu tempat ke tempat lain; kegiatan fisik intensif saat tawaf, berdesakan mencium hajar aswad, sa’i, lempar jumrah, dan sebagainya, seringkali jadi pemicu terjadinya situasi tersebut. Belum lagi jika petugas haji yang disediakan pemerintah malah bikin kesal, sebab sibuk dengan urusannya sendiri.

Supaya stres tidak berulah lebih lanjut, yang perlu dilakukan adalah buru-buru menghentikannya. 8 kiat berikut insya Allah bisa membantu upaya itu:

1. Meningkatkan keikhlasan. Ikhlas, yang berarti rela, jujur, suci hati atau bersih, merupakan pendongkrak stamina yang ruarr biasa!. Disamping bisa menyulap ibadah yang berat jadi terasa ringan, perilaku ikhlas juga mampu memunculkan situasi homeostatis (kecenderungan untuk mengatur dan mempertahankan lingkungan dalam tubuh yang stabil), yang berarti juga lebih tahan terhadap dampak negatif stres dan serangan penyakit.

2. Konsumsi makanan bergizi. Gizi yang baik dapat meningkatkan adaptasi tubuh hingga tahan menghadapi stres. Makanlah makanan yang bervariasi, terdiri dari berbagai jenis hidangan atau bahan makanan yang beraneka ragam. Perhatikan mutunya, sesuaikan jumlahnya dengan aktifitas yang tinggi.

Asupan kalsium hendaknya dimaksimalkan supaya tidak gampang lelah. Minumlah susu setiap hari. Jika jamaah sudah merasa kegemukan, susu rendah lemak bisa dijadikan pilihan.

Begitu pun dengan protein, guna meningkatkan daya tahan tubuh.

Terutama bagi yang sudah terindikasi sakit jantung, memilih ikan –utamanya ikan laut– merupakan langkah yang bijak. Ikan kaya akan omega-3 yang bermanfaat untuk kesehatan jantung, dan selenium yang pintar menangkal radikal bebas.

Juga vitamin C dan betakarotin –sebagai antioksidan– yang subur dalam buah dan sayuran berwarna.

Andai dirasa perlu, tidak ada salahnya jika jamaah mengkonsumsi suplemen.

3. Memilih kegiatan. Jamaah hendaknya bisa membedakan, mana ibadah yang wajib dan mana yang sunnah. Utamakan yang wajib, jika situasi memungkinkan baru garap yang sunnah. Tidak perlu memaksakan diri mencium hajar aswad, jika merasa tidak mampu bersaing ketat.

4. Saat terindah. Yakini bahwa saat ibadah haji adalah saat terindah dalam hidup. Keyakinan demikian setidaknya dapat mengalihkan perhatian dari rutinitas yang melelahkan. Disisi lain, Pikiran manusia sangat sugestif terhadap ide-ide. Bila jamaah terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa saat ibadah haji merupakan saat terindah dalam hidup, maka akan indah pulalah jadinya.

5. Selalu optimis. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa lepas dari jebakan masalah yang membuat stres. Daripada sibuk memikirkan akibat buruk yang belum tentu menimpa, lebih baik berusaha mengatasinya dengan optimis. Orang optimis mempunyai kemungkinan lebih besar untuk berhasil dibanding yang pesimis. Keyakinan orang optimis akan mempengaruhi mental dan fisik secara signifikan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

6. Berencana untuk esok. Ketahui apa-apa yang akan dikerjakan esok hari. Tidak ada salahnya bertanya pada petugas atau pembimbing haji tentang hal ini, berikut apa-apa yang perlu disiapkan. Kesiapan menjalani “tugas” esok hari, bisa meminimalisir dari jebakan stres.

7. Jangan lupakan canda dan tawa (tapi tidak berlebihan). Ditengah kesibukan, jangan lupakan canda dan tawa. Tawa merupakan obat sangat mujarab untuk stres. Ketika orang tertawa, aliran darah ke otak akan meningkat. Hormon endorphins –penenang alami yang memberi rasa nyaman– dilepaskan dan tingkat hormon pembangkit stres akan menurun.

8. Tidur yang cukup. Diantara rentetan aktifitas ibadah, jangan lupakan tidur. Pada waktu tidur, manusia mengalami suatu fase regeneratif. Saat itu tubuh melakukan perbaikan terhadap bagian-bagian yang perlu diperbaiki atau diganti, termasuk “mereparasi” perasaan yang acak-acakan dipermainkan kegelisahan.

Allahu a’lam.

=====*****=====

Oleh  :  Yuga Pramita
(Penulis “Ayat-Ayat Sehat” dan “Diet Islami”)
sumber : http://www.dakwatuna.com/2015/09/01/73959/kiat-mengantisipasi-stres-saat-berhaji/#axzz3hwvcaW8U, akses tgl 02/09/2015.

 

Iklan