Jangan Bilang Amit-Amit Sama Kunyit

dakwatuna.com – Meski sebetulnya memiliki kandungan gizi, diantaranya mangan, besi, vitamin B kompleks, vitamin C dan serat pangan (dietary fiber), masyarakat umumnya mengonsumsi kunyit (Curcuma domestica) tidak dalam rangka “menambal” asupan gizinya yang kurang, namun sebagai penambah cita rasa, pewarna, atau pengawet alami, lantaran kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroba.

Disisi lain, ada pula yang memanfaatkannya sebagai jamu. Mereka percaya, selain bisa menjaga kekebalan tubuh (imunostimulan), bahan ini pun dapat diandalkan jadi alternatif peningkat stamina (tonikum).

Apa yang masyarakat percaya ternyata tak melenceng jauh. Beragam kajian berhasil membuktikannya. Yang mencengangkan, dari hasil-hasil penelitian lebih lanjut, khususnya yang berkaitan dengan urusan kesehatan, didapati, rupanya bahan ini, berkat pigmen “ajaib” pemberi warna kuning keemasan yang dimilikinya, yang bernama kurkumin, bisa bertindak lebih hebat lagi : disebut-sebut mampu “menggebuk” rupa-rupa penyakit, membuatnya lari terbirit-birit.

Dari Dispepsia hingga AI

Dispepsia merupakan gangguan daya atau fungsi pencernaan, dengan gejala yang ditunjukkan biasanya berupa nyeri epigastrik yang berlangsung periodik, perut kembung, rasa tidak enak di daerah perut bagian atas (sebah), mual sampai muntah, dan anoreksia

Pada 20 pasien berumur 18 – 50 tahun yang tidak sedang minum obat, terutama golongan antasida, spasmolitik, analgesik, dan antitukak, kunyit pernah dicobakan untuk menanggulangi gangguan tersebut. Hasilnya, disimpulkan Depkes RI dalam Informatorium Obat Tradisional,

1. Ekstrak kunyit kemungkinan mempunyai manfaat klinik pengobatan gejala dispepsia derajat ringan sampai sedang.

2. Pengobatan selama 14 hari memberikan hasil lebih baik daripada 7 hari.

Selain itu, lantaran kemampuannya dalam mendongkrak produksi mRNA, hingga dapat meningkatkan reseptor kolesterol LDL, kunyit pun dapat diandalkan untuk menurunkan kadar kolesterol – secara teori, peningkatan reseptor kolesterol akan berdampak pada pengurangan kadar kolesterol LDL yang berbahaya bagi tubuh.

Demikian halnya dalam menghambat kemunculan alzheimer, merupakan suatu penyakit degeneratif otak yang progresif, dimana sel-sel otak rusak dan mati hingga mengakibatkan gangguan mental berupa kepikunan (demensia), yaitu terganggunya fungsi-fungsi memori (daya ingat), berbahasa, berpikir dan berperilaku.

Hasil penelitian Dr. Tze-Pin Ng dari Universitas Nasional Singapura (NUS) pada 1.010 manula berusia 60 tahun sampai 93 tahun menunjukkan, manula yang rajin mengonsumsi bumbu kari (curry), berbahan kunyit, memiliki daya ingat lebih tinggi dibanding mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsinya sama sekali.

Dari percobaan pada tikus oleh para peneliti UCLA kemudian diketahui, kurkumin sanggup menyusutkan keberadaan protein abnormal yang kerap mengacaukan otak pada mereka yang terkena alzheimer. Protein tersebut dapat menimbulkan gangguan pada synapse (sambungan antar jaringan saraf) di otak, terutama daerah hipokampus (“gudang” memori) dan korteks (digunakan kala berpikir dan berbahasa), menyebabkan macetnya “komunikasi” antara dua bagian tersebut.

Kehebatan lain kurkumin diungkap pula oleh Bharat Aggarwal dari University of Texas, yang berhasil “mengintip” kemampuannya dalam mengerem aktivasi NF-kappaB, serta Andrew Dannenberg dan Kotha Subbaramaiah dari New York Presbyterian Hospital – Cornell Medical Center, yang sukses membuktikan kesanggupannya mematikan gen cyclooxygenase-2 atau COX-2. Unsur-unsur tersebut diketahui memiliki peran dalam terjadinya kanker.

Bagi perokok berat, aktif maupun pasif, kurkumin juga mempunyai kemampuan untuk menghambat mutagenesis dari polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), yaitu komponen kimia penyebab kanker yang banyak terdapat pada asap rokok.

Hal lain, rupanya kunyitpun dapat pula dijadikan alternatif pembantu Tamiflu, manakala obat ini tak mampu lagi melawan biang flu burung (Avian Influenza/AI) – di beberapa negara, dimana Tamiflu dijual bebas, virus AI dikabarkan telah bermutasi, hingga kebal terhadap obat ini.

Disebut drh. CA Nidom MS, staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan yang juga Ketua Tropical Disease Diagnostic Center, Universitas Airlangga, kurkumin dapat berfungsi sebagai antisitokin. Seperti diketahui, bila seseorang terinfeksi virus AI maka kadar sitokin dalam tubuhnya akan naik. Kenaikan ini berbahaya karena sitokin dapat menyebabkan perubahan Oksigen (O2) menjadi peroksida (H2O2) yang meracuni sel-sel paru.

Peneliti lain melaporkan bahwa dalam tubuh orang yang terinfeksi virus H5N1, terjadi reaksi ‘badai sitokin’ (cytokin storm), menyebabkan ‘banjir sitokin’, mengakibatkan kerusakan parah pada sel paru-paru yang sangat membahayakan jiwa.

Aturan pakai

Sayangnya, meski ketahuan manfaatnya “segunung”, kunyit tidak bisa dikonsumsi sesukanya. Selain, khususnya yang tidak tahan terhadap phellandrena (sejenis minyak atsiri yang juga dikandungnya), bisa menyebabkan diare, disebut Made Astawan, guru besar di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, dan Andreas Leomitro Kasih, sebab dapat merangsang sekresi empedu, kebanyakan mengonsumsi kunyit dapat menyebabkan “kekosongan” kantung empedu.

Agar efeknya terasa sekaligus aman, konsumsilah kunyit sesuai aturan berikut :

• Untuk menanggulangi dispepsia, gunakan kunyit dalam bentuk bubuk yang dimasukkan dalam kapsul (berisi 0,8 gram ekstrak kering), dengan dosis 3 kali sehari 2 kapsul selama 2 minggu.

• Guna menurunkan kadar kolesterol darah diperlukan takaran 10 mikromolar kurkumin. Untuk membuat dosis tersebut, dibutuhkan 200 – 350 mg bubuk kunyit yang dilarutkan dalam 1 liter air, dengan asumsi kandungan kurkumin pada kunyit berkisar 3 – 5 persen.

• Supaya bisa terhindar dari alzheimer, Sally Frautschy, Ph.D., associate professor of neurology di UCLA, menyarankan untuk mengonsumsi sedikitnya 3 kali hidangan mengandung kunyit, seperti sayur kari, telur bumbu kuning, atau nasi kuning, setiap minggu. Dosis yang dianjurkan yaitu satu sendok teh kunyit ke dalam beras maupun sayur kari.

• Untuk “menghantam” kanker, setiap pasien kanker dianjurkan mengonsumsi kurkumin sebanyak 480 mg, tiga kali dalam sehari, atau mengonsumsi minimal 96 – 160 gram kunyit setiap kali dikonsumsi.

Allahu a’lam

===*****===



Oleh : Yuga Pramita
(Penulis “Ayat-Ayat Sehat” dan “Diet Islami”)
sumber : http://www.dakwatuna.com/2015/09/08/74275/jangan-bilang-amit-amit-sama-kunyit/#axzz3hwvcaW8U, akses tgl 09/09/2015.

Iklan