Antitumor Dalam Tinta Hitam Cumi-Cumi


Penggemar seafood dan chinese food pasti kenal dengan hidangan yang namanya cumi goreng, kalio cumi, cumi tomat hijau, atau cumi bumbu bakar. Sajian tersebut dibuat dengan bahan dasar cumi-cumi, hewan laut “bertangan” sepuluh, yang memiliki badan berwarna keunguan (bila ukurannya kecil) atau putih (bila ukurannya agak besar).

Sayangnya, meski sudah banyak yang mengenalnya, tak sedikit ternyata yang mengaku kesulitan memperlakukannya, apalagi untuk “menyulapnya” jadi sajian istimewa bagi seluruh keluarga.

Agar situasi tersebut bisa ditanggulangi, dalam boks dapat dilihat beberapa pedoman dasar dalam memperlakukannya.

Hidangan cumi-cumi memang kerap menggoda selera. Sangat wajar jika karenanya banyak orang menyukainya. Namun bukan lantaran itu saja salah satu anggota keluarga Loliginidae ini patut diperhitungkan. Hasil analisa Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) tahun 2005, menunjukkan, bahan ini ternyata juga memiliki beberapa unsur gizi yang bisa dijagokan, diantaranya proteinnya yang tinggi, 16,1 gr/100 gr bahan, dengan asam amino non-esensial dominannya, asam glutamat dan asam aspartat, yang berkontribusi besar terhadap timbulnya cita rasa gurih, hingga tak perlu menambahi penyedap, seperti MSG, saat mengolahnya.

Sementara dari kelompok gizi mikro, dua mineral penting yang dipunyainya, yakni kalsium (32 mg/100 gr bahan) dan fosfor (200 gr/100 gr bahan), dapat diandalkan untuk “mengawal” pertumbuhan anak dan menjaga orang tua dari serangan osteoporosis.

Tinta hitam

Bagi sebagian masyarakat, mengonsumsi tinta hitam cumi-cumi seringkali dianggap hal yang menjijikkan sebab memberi kesan kotor hingga merusak selera makan. Padahal, bagi sebagian yang lain, rasanya yang manis dan khas itu bisa membuat mereka “tergila-gila”.

Beragam produk olahan dengan campuran tinta hitam pun kemudian bermunculan. Di Jepang, bahan ini dipakai sebagai pengawet dan peningkat cita rasa pada cumi asin, atau bahkan mengolahnya menjadi es krim (ikaauri aisukurimu) yang banyak dijual di daerah sekitar pasar Tsukiji (pasar ikan besar di Tokyo). Di Kuba ada hidangan yang disebut arroz con calamares, yaitu nasi liwet yang ditanak dengan bumbu, ditambah cumi yang dipotong-potong, disertai tintanya. Di Italia, juga ada menu spaghetti al nero di sepia, yaitu spageti yang dimasak dengan cumi-cumi berikut tintanya, lalu dibumbui bawang putih, rajangan parsley, dan anggur putih. Sementara kuliner Spanyol banyak menggunakannya dalam nasi (arroz negro),

Di Indonesia sendiri, selain dikonsumsi langsung bersama cumi-cuminya, di Sunda hidangan tersebut dikenal dengan sebutan balakutak, tinta ini juga sudah diaplikasikan ke dalam berbagai makanan olahan, di antaranya dicampurkan ke dalam adonan untuk membuat mi hitam dan burger hitam.

Terlepas dari sekedar rasanya yang bisa bikin orang “senewen”, hasil beberapa penelitian menunjukkan, rupanya bahan ini, utamanya yang berasal dari jenis Sepioteuthis lessoniana, juga mempunyai efek penghambatan terhadap Staphylococcus aureus yang bisa menyebabkan infeksi supurasi yang serius dan penyakit sistemik, seperti impetigo bullosa, staphylococcal pneumonia, dan staphylococcal scalded skin syndrome, disamping mampu menghasilkan toksin yang menyebabkan keracunan makanan dan sindrom syok toksik.

Serta memiliki sifat fisiko kimia yang mirip dengan lisosim (lysozyme), yaitu enzim golongan hidrolase yang mengkatalisis hidrolisis ikatan glikosid spesifik dalam peptidoglikan dan kitin, serta mengkatalisis penghancuran beberapa dinding sel bakteri.

Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Hiroki University, Jepang, pada dua kelompok tikus, masing-masing 15 ekor, yang mengidap penyakit tumor ganas didapati, tikus-tikus yang telah diberi suntikan tiga dosis cairan tinta hitam hewan laut tersebut, hanya tiga ekor yang kedapatan mati. Sementara tikus yang berada di kelompok kontrol, tidak disuntik, setelah jangka waktu tiga minggu, semuanya mati.

Para ahli menduga, situasi tersebut disebabkan tinta cumi-cumi –dan sotong (Sepia)– bisa mengaktifkan sel darah putih yang mampu memerangi tumor.

Tak selamanya aman

Cumi-cumi kering asin umumnya dijual dalam dua bentuk : lembaran, yang rasanya tidak terlalu asin, dan gelondongan (bulat), yang biasanya sangat asin.

Bagi yang takut terkena hipertensi tapi tak tahan ingin menyantap cumi-cumi asin gelondongan, ada cara sederhana yang bisa dilakukan agar ketakutannya tidak jadi kenyataannya, yakni dengan merendamnya terlebih dulu, hingga rasanya jadi lebih tawar dan kadar natriumnya tidak terlalu tinggi.

Disisi lain, ternyata situasi tak aman yang bisa ditimbulkan dari hidangan berbahan cumi-cumi bukan hanya itu, khususnya bagi mereka yang menggemari hidangan ala Jepang sushi atau sashimi, yang bahan utamanya dalam keadaan mentah.

Seorang kakek, Shota Fujiwara, dari Gifuprefecture, dalam tiga tahun terakhir mengalami sakit kepala yang akut dan hebat, sementara kulit batok kepalanya terus membesar, hingga terlihat seperti “nong-nong” pada ikan Louhan, gara-gara kesukaannya akan hidangan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan dan pembedahan diketahui, ternyata situasi itu disebabkan oleh “gerombolan” ulat yang bersarang didalamnya. Hasil analisa menunjukkan, kemungkinan besar ulat tersebut berasal dari parasit yang biasa terdapat pada tubuh ikan, seafood mentah, baik ikan laut maupun air tawar.

Agar kejadian tersebut bisa dihindari, masaklah cumi-cumi hingga benar-benar matang, atau, jika ingin disimpan sebagai persediaan, bekukan dengan suhu minus 20 derajat Celcius selama lebih dari 1 minggu atau minus 35 derajat Celcius selama 15 jam.

Waspadai selalu jika anda membeli cumi-cumi yang sebelumnya tidak dibekukan dengan cara yang benar.

Boks : Pedoman dasar memperlakukan cumi-cumi
 

 

=====*****=====
 

 Oleh : Yuga Pramita
(alumnus FKM UNDIP)
sumber : Pikiran Rakyat, 23/04/2009, p.29.

Iklan