Cumi-Cumi, Ikan Yang Bisa Berganti Warna

Cumi-cumi (Loligo spp) termasuk ikan jenis pelagis (hidup di permukaan air laut), suka bergerombol dan tertarik cahaya pada malam hari. Karennya jangan heran, jika para nelayan tradisionil kita, tatkala melaut di malam hari, suka memanfaatkan lampu petromaks untuk memancing kemunculannya.

Karena letak “kaki atau tangan”-nya yang berjumlah 10, terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek, di kepala, para ahli mengelompokkan anggota keluarga Loliginidae ini dalam kelas Cephalopoda (cephale = kepala, podos = kaki). Hewan lain yang juga sekelompok dengannya yaitu sotong (Sepia) dan gurita (Octopus) yang memiliki 8 tentakel.

Bentuk cumi-cumi sangat unik. Dibedakan atas kepala, leher, dan badan yang bulat memanjang, dengan sirip berbentuk segitiga disisi kiri dan kanannya –panjangnya kurang lebih dua pertiga panjang badan, serta bagian belakangnya meruncing.

Berbeda dengan jenis ikan pada umumnya, binatang ini termasuk jenis hewan yang tidak memiliki tulang dalam tubuhnya. Meski demikian, kelihaiannya dalam berenang tak perlu diragukan.

Cumi-cumi Jepang, yang bernama Todarodes pacificus, ketika berpindah tempat sejauh 1.250 mil (sekitar 2.000 km), bisa melaju dengan kisaran kecepatan 1,3 mil per jam (lebih kurang 2 km/jam). Sementara untuk pergerakan jarak pendek, semisal kala mengejar mangsa, hewan ini mampu melaju hingga 7 mil per jam (kira-kira 11 km/jam). Sedangkan cumi-cumi yang bernama ilmiah Loligo vulgaris, merupakan jenis cumi-cumi terkecil, mampu bergerak dengan kecepatan melebihi 19 mil per jam (sekitar 30 km/jam).

Kemampuan bergerak itu terjadi berkat adanya sistem yang sangat unik pada tubuhnya. Pada kedua sisi kepala hewan ini terdapat lubang yang menyerupai kantung. Air disedot masuk melalui lubang tersebut menuju suatu rongga berbentuk tabung di dalam tubuhnya, untuk kemudian disemprotkannya kembali melalui sifon atau “corong” berotot, berupa pipa sempit tepat di bawah kepalanya, dengan tekanan tinggi, hingga membuatnya bergerak cepat ke arah yang berlawanan akibat gaya reaksi.

Sedangkan sirip dan tentakelnya, selain berguna untuk menyeimbangkan tubuhnya kala mengambang, dan membantu pergerakannya ke arah depan, juga bisa dijadikan rem untuk menghentikan laju pergerakannya.

Antara mata dan tentakel

Jika, manakala berbentuk telur yang memiliki permukaan lengket hingga memungkinkannya menempel pada rongga-rongga di kedalaman lautan, “janin” cumi-cumi memanfaatkan sari makanan yang telah tersedia di dalam telur sampai siap menetas, setelah dewasa, hewan ini akan menjadi predator bagi ikan-ikan kecil, udang, atau binatang lunak (mollusca) lainnya, dengan bantuan dua unsur penting yang dipunyainya : mata dan tentakel.

Mata hewan ini terkenal tajam, berkat kemampuannya dalam memusatkan pupil dengan membawa lensa mendekati retina, serta menyesuaikan volume cahaya dengan menutup atau membuka “lidah kecil” di samping matanya. Dengan mata itulah cumi-cumi dapat mendeteksi keberadaan hewan kecil yang tengah “jalan-jalan” di dasar lautan. Lalu, dengan menggunakan tentakel yang mirip cambuk, yang awalnya diposisikan dalam keadaan tergulung, binatang ini menyergap mangsanya.

“Pencabik-cabikan” hingga menjadi serpihan kecil selanjutnya dilakukan oleh paruhnya yang demikian terampil, hingga mampu dengan baik melubangi kulit cangkang kepiting yang keras dan mengeluarkan dagingnya dengan lidah.

Makanan seterusnya masuk dalam sistem pencernaan yang dimilikinya, yang terdiri atas : mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus buntu, usus dan anus, dengan dibantu kelenjar pencernaan, yaitu kelenjar ludah, hati dan pankreas.

Dengan makanan itulah cumi-cumi tumbuh dan membesar, sesuai genetiknya. Ada yang hanya sampai sebesar telapak, sebagaimana yang sering dijumpai di pasar-pasar, ada pula yang hingga tahap luar biasa.

Beberapa jenis cumi-cumi raksasa yang masih hidup saat ini, diantaranya adalah :

Taningia danae, jenis cumi-cumi raksasa yang hidup di perairan tropis dan subtropis Lautan Pasifik, dapat tumbuh hingga 2,3 meter dengan berat 61,4 kilogram.

• Spesies sejenis dari famili Architeuthidae, yang bisa tumbuh sampai 10 meter.

• Dan cumi-cumi raksasa, yang memiliki ukuran terbesar, dari jenis cumi-cumi kolosal (Mesonychoteuthis hamiltoni) yang diperkirakan dapat tumbuh hingga 20 meter – cumi-cumi kolosal yang bangkainya diteliti di Selandia Baru beberapa waktu lalu memiliki mata sebesar bola voli dan lensa mata sebesar buah jeruk.

Berganti warna

Seekor cumi-cumi dapat menghindar dari pemangsanya dengan gerakan cepat yang dimilikinya. Namun, manakala kecepatan saja tak cukup untuk melindungi dirinya, hewan ini akan menyemprotkan tinta hitam sebagai senjatanya.

Selain dapat merubah air menjadi keruh, membuat musuhnya terkejut untuk beberapa saat, sifat alkaloid dari cairan yang mengandung melanin ini tidak disukai oleh predator. Saat musuhnya panik dan “mual” gara-gara cairan itulah, cumi-cumi meloloskan diri.

Strategi lain untuk melindungi diri yang biasa dilakukannya adalah dengan memanfaatkan kromatofora (chromatophores), yakni sel-sel elastis di bawah kulit yang berisi kantung-kantung pewarna (pigmen), dengan warna utamanya kuning, merah, hitam, dan cokelat.

Sel-sel pigmen yang elastis ini dikelilingi ikatan sel-sel otot yang dapat berkontraksi dengan cepat, hingga membuatnya “mekar” dan menampakkan warna dengan lebih jelas. Dengan cara seperti itu, cumi-cumi dapat meniru warna lingkungan yang ditempatinya untuk sebuah penyamaran yang sempurna.

Disisi lain, ternyata warna-warni yang ditampilkan cumi-cumi tidak hanya digunakan untuk mengelabui musuh-musuhnya saja. Kala berkomunikasi, mengusir saingan, hingga bercinta, hewan ini memanfaatkannya juga.

Seekor cumi-cumi jantan menunjukkan warna yang berbeda ketika kawin dengan warna yang digunakan ketika berduel. Saat cumi-cumi jantan bercumbu dengan yang betina, kulitnya berwarna kebiruan. Jika ada jantan lain datang mendekat pada waktu ini, ia akan menampakkan warna kemerahan pada separuh tubuhnya. Merah adalah warna peringatan yang digunakan saat menantang atau melakukan serangan.

=====*****=====

 Oleh : Yuga Pramita
(alumnus FKM  UNDIP)
sumber : Pikiran Rakyat, 23/04/2009, p.29.

Iklan