Bersahurlah dengan Apel

7827Apel yang disebut orang Skandinavia sebagai “makanan para dewa”, merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari pegunungan Caucasus di Asia Barat dan Eropa Timur dengan iklim subtropis.
 
Sejak zaman baheula, buah yang termasuk famili Rosaceae serta memiliki lebih dari 25 varietas ini telah dibudidayakan dan menyebar ke mana-mana – di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934. Jangan heran jika lantaran itu, dalam kitab-kitab pengobatan Cina dan Mesir kuno namanya juga tercantum.
 
Dibandingkan dengan buah-buahan lain, apel terbilang lebih awet bertahan. Varietas rome beauty misalnya, dapat nangkring selama 21 – 28 hari (umur petik 113 – 120 hari) atau 7 – 14 hari (umur petik 127 – 141 hari). Sementara apabila umur simpannya ingin lebih panjang (4 – 7 bulan), buah ini mesti ditaruh pada suhu minus 6 – 0 derajat Celcius dengan precooling 2,2 derajat Celcius.
 
Beragam khasiat
 
Gina L. Nick, Ph.D., N.D., Kepala Litbangnya Longevity Through Prevention, Inc., di California, dari kajiannya pada berbagai hasil laporan, mendapati kemampuan buah ini dalam melindungi orang dari terkena kanker paru-paru, asma, serta – berdasar hasil penelitian para periset dari University of Groningen, Belanda – perokok yang berisiko mendapatkan COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) (termasuk emphysema dan bronkitis) dapat menurun kemungkinannya terkena penyakit tersebut apabila yang bersangkutan rajin mengonsumsi apel.
 
Demikian halnya dalam menjaga kesehatan jantung dan “kebersihan” pembuluh darah. Studi yang dilaksanakan di Italia, Irlandia, dan Prancis menunjukkan bahwa diet kaya apel secara signifikan mampu mereduksi kadar kolesterol darah.
 
Hasil analisis lebih lanjut mendapatkan, kemampuan tersebut berkait dengan beragam unsur yang dimiliki apel. Sebut umpamanya kandungannya akan beberapa senyawa antikanker, seperti asam elagat (ellagic acid), suatu senyawa asam yang mempunyai cincin polisiklik, mengandung dua dihidroksifenol; asam kafeat (caffeic acid), atau 3,4-dihidroksi asam sinamat; dan asam klorogenat (chlorogenic acid), yaitu asam hasil kondensasi asam kafeat dan asam quinat yang mudah teroksidasi oleh polifenoloksidase, menghasilkan produk warna coklat, dalam jumlah 100 – 130 mg/100 gr.
 
Atau quercetin, dalam jumlah 4.42 mg/100 gr, yang berkhasiat sebagai antitumor dengan jalan menstimulir apoptose, menghambat proliferasi sel dan mencegah pembentukan prostaglandin (PgE2) dalam tumor, di samping menghambat agregasi trombosit dan oksidasi LDL-kolesterol.
 
Keistimewaan lain buah ini, selain memiliki beragam vitamin dan mineral yang biasa terdapat dalam bermacam buah-buahan, yang bermanfaat membantu daya tahan tubuh dan bersifat antioksidan, seperti dilaporkan Hunt et al (1991) berhubungan dengan boron yang dimilikinya (2.73 mg/kg). Boron tidak hanya esensial bagi tumbuhan, tetapi juga diduga kuat esensial bagi hewan dan manusia.
 
Tak hanya mampu menurunkan risiko terkena kanker prostat – Sebuah Studi epidemiologis, sebagaimana dicatat Afriansyah (2002), mendapati, laki-laki yang mengonsumsi sebagian besar boron, yakni 1,8 ug per hari, berpeluang 62 persen lebih rendah untuk terkena kanker prostat daripada laki-laki yang mengonsumsi separuh dari jumlah tersebut – penelitian pada hewan percobaan menunjukkan, boron berpengaruh positif terhadap metabolisme kalsium, fosfor, magnesium dan vitamin D, serta berperan aktif dalam produksi hormon estrogen dan beberapa hormon lainnya.
 
Bersahur dengan apel
 
Idealnya orang bersahur seperti sarapan pagi, hingga mampu memenuhi setidaknya sepertiga dari kebutuhan gizi harian. Sebab pelaku puasa tidak boleh makan pada siang hari, maka sajian sahur sebaiknya pula bisa memperpanjang munculnya lapar. Agar santapan ideal tersebut bisa tersaji, tentu saja dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.
 
Masalahnya, di masa-masa “injury time” (10 hari terakhir) seperti sekarang ini orang kerap terjebak dengan situasi bangun sahur kesiangan. Alhasil, sajian yang dihidangkan jadi serbaminimal.
 
Diperlukan upaya cerdik, yakni menyediakan sajian yang dapat cepat membuat kenyang sekaligus jago menunda lapar guna mengakalinya.
 
Apel bisa diandalkan untuk itu. Di samping lantaran nilai Satiety indeks (SI)-nya yang tinggi (197 persen), jauh di atas nilai SI roti putih (100 persen), nasi merah (132 persen), nasi putih (138 persen) dan roti wholemeal (157 persen) (Holt, 1995), hasil kajian Rimbawan dan Siagian, sebagaimana dicatatnya dalam buku Indeks Glikemik Pangan, nilai IG (indeks Glikemik) apel pun rendah (36 – 40).
 
Jika SI berkaitan dengan kecepatan membuat kenyang – semakin tinggi nilai SI suatu sajian, semakin cepat sajian tersebut membuat kenyang – maka IG berurusan dengan kecepatannya “melepas” karbohidrat guna dijadikan bahan baku glukosa darah. Semakin tinggi nilai IG suatu sajian, semakin cepat sajian tersebut menaikkan kadar glukosa darah, tetapi akan semakin cepat pula membuat lapar karena karbohidratnya segera habis terpakai. Batas pertengahan IG makanan adalah antara 55 – 70. Lebih kecil dari angka tersebut berarti rendah, sementara jika lebih besar termasuk kategori tinggi.
 
Di sisi lain rupanya apel juga memiliki serat dalam jumlah antara 55 hingga 100 gr/buah (bergantung besar kecilnya apel). Selain akan menyehatkan pencernaan, penelitian telah membuktikan bahwa makanan yang memiliki banyak serat bisa diandalkan untuk menunda lapar. Wallaahualam.***
 
Yuga Pramita, 
alumnus FKM Undip.
 
 
Iklan